Senin, 14 Agustus 2017

6 Efek Samping Rontgen Bagi Tubuh

6 Efek Samping Rontgen Bagi Tubuh

Instalasi Radiologi RS.Paru dr. Ario Wirawan Salatiga


6 Efek Samping Rontgen Bagi Tuubuh – Rontgen merupakan suatu istilah di dalam dunia medis namanya yang diambil dari nama pencipta teknik ini sendiri, ialah Wilhelm Rontgen. Rontgen adalah salah satu bentuk sinar X yang lembut mempunyai fungsi untuk memberikan dan menampilkan citra atau image bagian dalam dari tubuh.
Rontgen digunakan dalam melihat kondisi dan juga lokasi dari patah tulang, keretakan pada tulang, lokasi peluru ataupun benda asing lainnya yang dapat bersarang dalam tubuh, serta dapat mendeteksi kemungkinan adanya gangguan lain yang berada dalam tubuh. Saat ini rontgen telah menjadi salah satu standar dalam pemeriksaan untuk mendeteksi adanya gangguan kesehatan penyakit dalam untuk pasien.

Kegunaan Rontgen sebagai Sinar X

  1. Pengobatan
  • Sinar X lembut yang digunakan dalam mengambil gambar foto dikenal sebagai radiograf. Gambar foto sinar X tersebut digunakan untuk memperlihatkan kecacatan pada tulang, mendeteksi tulang patah dan juga memperlihatkan keadaan organ-organ yang berada dalam tubuh.
  • Sinar X keras digunakan memusnahkan sel-sel kanker yang dikenal dengan radioterapi.
  1. Perindustrian 
Di bidang perindustrian, sinar X digunakan agar :
  • Mengetahui kecacatan pada struktur binaan ataupun bagian-bagian di dalam mesin dan juga engine.
  • Memperbaiki rekahan pada pipa logam, dinding konkrit dan juga tekanan yang tinggi.
  • Memeriksa retakan pada struktur plastik serta getah.

  1. Penyelidikan
  • Sinar X digunakan dalam menyelidik struktur hablur dan juga jarak pemisahan antara atom-atom di dalam suatu bahan yang hablur.

Efek Samping Rontgen
Meskipun mempunyai banyak sekali kegunaan dalam bidang medis serta kedokteran, tetapi ternyata dapat menyebabkan efek samping rontgen bagi kesehatan. Apa saja efek samping rontgen dan juga bahayanya ? Berikut merupakan beberapa efek samping rontgen dan juga bahayanya :
  1. Menyebabkan penurunan produksi pada sel darah.
Produksi sel darah yang menurun, akan mempunyai dampak bagi kesehatan. Sel darah yang menjadi lebih sedikit bisamenyebabkan anemia. Selain itu, juga berkemungkinan bisa berpengaruh dalam proses penyembuhan luka.

  1. Menyebabkan infeksi serta iritasi kulit.
Efek samping rontgen dan juga bahayanya yang mungkin dapat muncul yaitu menyebabkan munculnya iritasi serta infeksi bagian kulit. Terutama bagian kulit yang langsung menerima paparan dari sinar x yang dapat terlihat dari kondisi kulit memerah, munculnya ruam, bintik-bintik dan kulit terasa gatal.
  1. Memiliki dampak yang buruk bagi mata
Rontgen juga bisa menjadi sangat berbahaya, terutama saat dilakukan pada organ serta di bagian tubuh yang berdekatan di sekitaran mata. Saat rontgen dilakukan di daerah tersebut serta pasien yang tidak menggunakan perlindungan standar. Maka hal ini dapat menimbulkan kemunculan gangguan di bagian mata pada pasien, seperti menyebabkan iritasi dan penurunan fungsi pada penglihatan.
  1. Mempengaruhi penurunan produksi sperma bahkan kemandulan.
Hal ini erat sekali kaitannya terhadap kemandulan serta penurunan kualitas sperma yang dimiliki pria. Selain itu, radiasi sinar X yang ditembakkan saat melakukan pemeriksaan juga dapat mengakibatkan munculnya gangguan di organ reproduksi.
  1. Pneumonitis dan gangguan pada paru-paru
Hal ini dapat terjadi karena pasien terlalu sering melakukan rontgen di bagian dada. Tentunya radiasi dari sinar X bisa menyebabkan berbagai macam gangguan terhadap paru-paru, seperti menyebabkan menjadi sesak nafas, asma serta kemungkinan penyakit pneumonia.
  1. Gangguan pencernaan di bagian usus halus
Usus halus adalah salah satu organ yang sensitif terhadap radiasi sinar X. Bahaya rontgen karena terlalu sering maka sinar X dapat menyebabkan gangguan di bagian usus halus. Hal ini dapat mengakibatkan sembelit, wasir, serta buang air besar menjadi terganggu dan tidak lancar.
Meskipun rontgen selalu dianggap berbahaya, tetapi demikian sebenarnya tidak berbahaya. Apalagi saat dilakukan dengan jumlah yang wajar dan tidak terlalu sering. Akan berbahaya bila rontgen dilakukan terlalu sering sehingga menyebabkan radiasi sinar X dapat mengganggu kesehatan pada organ tubuh.
Demikianlah beberapa efek samping rontgen bagi kesehatan, terima kasih telah membaca artikel kami.

HUBUNGAN ANTARA TB DENGAN HIV-AIDS

HUBUNGAN ANTARA TB DENGAN HIV-AIDS

Hubungan Antara TB dengan HIV-AIDS

TB atau Tuberkulosis adalah penyakit yang menginfeksi saluran pernapasan dan paru-paru. Gejala umum yang ditemui pada TB antara lain batuk parah, demam dan kehilangan berat badan secara terus menerus. Lalu, apa hubungan antara TB dan HIV-AIDS?
Laporan WHO menyebutkan 8,6 juta orang terjangkit TB pada 2012, dengan 1,3 juta di antaranya meninggal dunia. Laporan itu juga menyebutkan bahwa 320.000 dari 1,3 juta pengidap TB yang meninggal tersebut adalah orang dengan HIV-AIDS (ODHA).

Sementara itu di Indonesia, ada 460.000 kasus TB baru yang terjadi tiap tahun, dan 3 persen di antaranya juga mengidap HIV. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan bahwa hubungan antara HIV dan TB berawal dari TB Latent.

TB latent atau tuberkulosis laten merupakan kondisi di mana seseorang mempunyai bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan TB pada tubuhnya, namun bakteri tersebut tidak aktif atau tertidur. Sehingga mereka tidak merasakan sakit pada saluran pernapasan atau paru-paru layaknya pengidap TB.
Seperti sudah diketahui secara umum, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Jika pengidap TB Latent tertular HIV, bakteri-bakteri yang tadinya tertidur atau pasif akan bangun dan aktif menyerang tubuh akibat sistem kekebalan tubuh yang lemah.

"Jadi dia (TB Lltent) awalnya sehat segar bugar. Namun kena HIV, sistem kekebalan tubuhnya melemah, bakteri TB tadi jadinya aktif kembali," terang Prof Tjandra usai acara 2nd Forum Stop TB Partnership Kawasan Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Mediterania Timur di Hotel Sultan, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (3/3/2014).
Laporan WHO menyebutkan bahwa sepertiga dari total populasi di dunia merupakan TB Latent. Untuk itu, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengimbau kepada masyarakat untuk selalu menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
"Dengan PHBS, banyak penyakit yang bisa dicegah, termasuk TB dan HIV-AIDS. Jangan lupa juga untuk mengonsumsi obat dengan benar dan teratur," pungkasnya.


• HUBUNGAN ANTARA TBC dan HIV/AIDS
TBC merupakan salah satu penyakit penyebab kematian pada penderita penyakit HIV/AIDS di dataran benua Afrika. Bahkan di Amerika, sekitar 63% penderita HIV juga terinfeksi bakteri TBC.

Penderita penyakit HIV/AIDS memiliki daya tahan tubuh yang sangat rendah. karena virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh mereka. Resikonya, selemah apa pun sel penyakit akan mudah masuk ke dalam tubuh karena sistem kekebalan tubuhnya sudah tidak bisa menangkal, akan mudah menyerang. Apalagi terhadap serangan bakteri TBC yang sangat kuat, pasti akan sangat mudah sekali. Dia pasti akan menjadi penderita penyakit TBC aktif yang parah. Dan tak heran, penyakit ini akhirnya membawa mereka pada kematian
Untuk mengatahui indikasi terserangnya penyakit dalam tubuh tubuh pasien HIV/AIDS dapat dilakukankan dengan tes tuberculin dan juga tes darah sedini mungkin. Hal ini harus terus dilakukan karena mereka merupakan kalangan yang berisiko tinggi terkena infeksi bakteri penyebab penyakit TBCkarena rentannya tubuh oleh virus HIV. Tak hanya untuk mencari peyakit TBC aktif, namun tipe dari TBC lain-pun harus selalu dipantau.

• PENCEGAHAN TBC PADA PENDERITA HIV/AIDS
Dilakukan dengan program multidrug resisten TBC (MDR TBC). Obat yang diberikan ada dua jenis, yaitu isoniasid dan juga rifampin. MDR TBC adalah sebuah program pengobatan yang sangat sulit. Program ini juga sangat fatal dan juga beresiko pada kematian. Namun demi kesembuhan para penderita penyakit TBC pada penderita HIV/AIDS, metode pengobatan ini harus tetap diterapkan.
Sebagai bentuk kelanjutan dari program MDR TBC, di Amerika ada program pencegahan TBC yang cukup ekstrim. Namanya adalah directly observed therapy (DOT).
Yaitu sebuah pencegahan/pengobatan bagi perawat pasien kasus TBC agar selalu sehat. Pengonsumsian obatnya dilakukan dengan pengawasan secara langsung yang jelas tidak sembarangan.
Penderita HIV/AIDS juga mendapatkan pengawasan yang ketat. Hal ini tentu saja agar penderita HIV AIDS tidak terancam mati akibat komplikasi penyakit TBC di kemudian hari, bagaimanapun jelas mencegah lebih baik daripada mengobati!


• HUBUNGAN PENYAKIT HIV dan TUBERKULOSIS
Penyakit HIV/AIDS, seperti yang telah ketahui bersama, adalah penyakit menular seksual yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini termasuk penyakit infeksi, disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Sampai saat ini, belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obat yang tersedia di pasaran hanya mampu menekan jumlah virus dan memperpanjang usia harapan hidup penderitanya.
Penyakit tuberkulosis juga termasuk penyakit infeksi. Bedanya dengan HIV, tuberkulosis disebabkan oleh bakteri yaitu Mycobacterium tuberculosis. Umumnya bakteri ini bersarang di paru-paru dan menyebabkan kerusakan pada jaringan tersebut. Tetapi tidak menutup kemungkinan menyerang organ tubuh lain. Oleh karena itu dikenal istilah penyakit tuberkulosis otak, tuberkulosis usus, tuberkulosis tulang, dll.
Hampir semua orang pernah terpapar dengan Mycobacterium tuberculosis. Hanya saja, tidak semua paparan tersebut berlanjut menjadi penyakit tuberkulosis. Pada seseorang yang mempunyai kekebalan tubuh yang bagus, maka bakteri akan segera dilenyapkan oleh tubuh. Kekebalan tubuh terhadap bakteri tuberkulosis biasanya diperoleh dari imunisasi BCG.
Jadi apa hubungan kedua penyakit ini? Seperti telah dijelaskan, penyakit HIV/AIDS merusak sistem pertahanan sehingga tubuh kesulitan untuk memusnahkan kuman penyakit yang menyerang. Ketika kuman Mycobacterium tuberculosis melakukan ‘aggresi’, kuman ini akan leluasa memperbanyak diri dan merusak organ seperti paru-paru. Tanpa ada yang menahannya. Fenomena ini disebut infeksi oportunis tuberkulosis.
Menurut data, 30% penderita HIV di seluruh dunia menderita tuberkulosis. Bahkan di beberapa negara, angka tersebut mencapai 80%.

• GEJALA AIDS
AIDS singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome.
- Acquired artinya diperoleh, jadi bukan merupakan penyakit keturunan \
- Immuno berarti sistem kekebalan tubuh
- Deficiency artinya kekurangan
- Syndrome berarti kumpulan gejala


AIDSmerupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Akibatnya, tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang berakibat sangat fatal. Padahal penyakit tersebut tidak akan menyebabkan gangguan yang sangat berarti pada manusia yang sistem kekebalannya normal. Jadi, AIDS adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus yang disebut HIV.

• Cara Penularan AIDS
Penularan penyakit AIDS melalui cairan tubuh penderita. Seseorang dapat tertular AIDS (terinfeksi virus HIV) antara lain sebagai berikut :
- Melalui kontak hubungan badan (hubungan seksual) dengan seorang penderita yang telah terinfeksi HIV
- Melalui jarum suntik atau alat tusuk lain yang telah dipakai atau bekas dipakai orang yang terinfeksi HIV
- Melalui transfusi darah yang tercemar HIV
- Melalui ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya

• GEJALA PENYAKIT HIV
Infeksi oleh HIV akan menyerang sistem kekebalan tubuh. Karena sel-sel pertahanan tubuh (sel-sel darah putih) semakin lama semakin banyak yang rusak maka penderita menjadi sangat rentan terhadap semua bentuk infeksi kuman. Pada tahap akhir, penderita bahkan sudah tidak tahan terhadap kuman-kuman yang secara normal bisa dibinasakan dengan mudah oleh antibodi tubuh.
Pada tahap awal, seseorang yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala dan mungkin sampai bertahun-tahun. Setelah infeksi pada tahap pertengahan, seorang penderita akan menunjukkan gejala seperti flu yang berulang-ulang yaitu :
- Lesu
- Demam
- Berkeringat malam hari tanpa sebab
- Otot sakit
- Batuk
- Pembesaran kelenjar limfe
- Infeksi mulut (sariawan) berulang-ulang

Pada tahap akhir, berat badan penderita menurun dengan cepat, diare kronik, sesak napas (infeksi paru-paru), bintik-bintik atau bisul berwarna merah, yang akhirnya menyebabkan kematian
- Sering sariawan di mulut
- Terjadi kematian

• PERBEDAAN HIV dan AIDS
Tabel dibawah ini akan menjelaskan perbedaan antara HIV dan AIDS. Dari informasi di atas sekarang jelas bahwa HIV dan AIDS adalah dua kondisi yang berbeda.
                  
HIV membunuh limfosit CD4v dari sistem kekebalah tubuh
Jumlah CD4 pada orang dengan AIDS dibawah 200
HIV membuat orang rentan terhadap infeksi oleh berbagai patogen dan kanker
AIDS adalah suatu kondisi dimana sesorang menderita beberapa jenis inveksi, sarkoma kaposi, TBC, dll
HIV dapat dikendalikan dengan menggunakan anti virus
AIDS merupakan stadium lanjut yang terjadi setelah 2 sampai 15tahun terinveksi HIV

http://diskes.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/informasi/artikel/detailartikel/57
http://perpustakaankesehatan.blogspot.com/2013/01/hubungan-antara-tbc-dan-hivaids.html
http://www.catatandokter.com/2011/03/hubungan-penyakit-hiv-dan-tuberkulosis.html
http://gejalaaids.com/

KANDUNGAN BERBAHAYA DALAM SEBATANG ROKOK


KANDUNGAN BERBAHAYA DALAM SEBATANG ROKOK




Skarang saya mau ngasih info n share ke semuanya, apa aj sich kandungan dalam rokok itu..
1batang rokok itu terdapat kandungan yang berbahaya buat tubuh kita lho,.
Apalagi klo kita merokok tiap hari, menghabiskan berapa bnyak batang rokok dan banyak penyakit yang masuk ke dalam tubuh kita tanpa kita sadari keberadaanya..
Kandungan – kandung bahan kimia berbahaya dalam rokok :
Kandungan Rokok
Kandungan Rokok

1. Nikotin

Nikotin Ini adalah komponen adiktif tembakau yang dapat diserap ke dalam darah dan mempengaruhi otak dalam waktu 10 detik sehingga dapat menyebabkan perokok merasa relax. Inilah yang menyebabkan perokok merasa ketergantungan untuk tetap merokok. Nikotin bukanlah satu – satunya kandungan rokok yang berbahaya dalam rokok.

2. Karsinogen

zat yang dapat menyebabkan kanker seperti TSNAs (Tobacco-specific N-nitrosamines), Benzene, Pestisida dan Formaldehid.

3. Senyawa Logam

Senyawa Logam beracun,yaitu logam yang terkandung dalam rokok seperti Arsenik dan Cadmium.
Arsenik : Kandungan yg terdaat pada racun tikus, Arsenik muncul karena Pestisida yang sering disemprotkan oleh petani tembakau.
Cadmium : Komponen Logam yang ada didalam batrei,
Manusia yg merokok memiliki kandungan Cadmium yg lebih besar daripada Perokok Pasif.

4. Zat Radio aktif

logam berat yang terdapat dalam asap rokok seperti plumbum (Pb-210) dan polonium (Po-210)
Untuk Lebih Lanjut silahkan Lihat Gambar.
kandungan-rokok
kandungan-rokok

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI TERKAIT PELAYANAN KESEHATAN DI LAHAN PRAKTIK

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI TERKAIT PELAYANAN KESEHATAN DI LAHAN PRAKTIK

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI TERKAIT PELAYANAN KESEHATAN DI LAHAN PRAKTIK 

A.     Pendahuluan
Health-care Associated Infections (HAIs)” merupakan komplikasi yang paling sering terjadi di pelayanan kesehatan. HAIs selama ini dikenal sebagai Infeksi Nosokomial atau disebut juga sebagai Infeksi di rumah sakit ”Hospital-Acquired Infections” merupakan persoalan serius karena dapat menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien. Kalaupun tak berakibat kematian, pasien dirawat lebih lama sehingga pasien harus membayar biaya rumah sakit yang lebih banyak.
HAIs adalah penyakit infeksi yang pertama muncul (penyakit infeksi yang tidak berasal dari pasien itu sendiri) dalam waktu antara 48 jam dan empat hari setelah pasien masuk rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan lainnya, atau dalam waktu 30 hari setelah pasien keluar dari rumah sakit. Dalam hal ini termasuk infeksi yang didapat dari rumah sakit tetapi muncul setelah pulang dan infeksi akibat kerja terhadap pekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.
Angka kejadian terus meningkat mencapai sekitar 9% (variasi3-21%) atau lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap di rumah sakit seluruh dunia.Kondisi  ini menunjukkan penurunan mutu pelayanan kesehatan. Tak dipungkiri lagi untuk masa yang akan datang dapat timbul tuntutan hukum bagi sarana pelayanan kesehatan, sehingga kejadian infeksi di pelayanan kesehatan harus menjadi perhatian bagi Rumah Sakit.
Pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan penunggu pasien merupakan kelompok yang berisiko mendapat HAIs. Infeksi ini dapat terjadi melalui penularan dari pasien kepada petugas, dari pasien ke pasien lain, dari pasien kepada pengunjung atau keluarga maupun dari petugas kepada pasien. Dengan demikian akan menyebabkan peningkatan angka morbiditas, mortalitas, peningkatan lama hari rawat dan peningkatan biaya rumah sakit.
Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) sangat Penting untuk melindungi pasien, petugas juga pengunjung dan keluarga dari resiko tertularnya infeksi karena dirawat, bertugas juga berkunjung ke suatu rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Keberhasilan program PPI perlu keterlibatan lintas profesional: Klinisi, Perawat, Laboratorium, Kesehatan Lingkungan, Farmasi, Gizi, IPSRS, Sanitasi & Housekeeping, dan lain-lain sehingga perlu wadah berupa Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi.
Beberapa rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan merupakan lahan praktik bagi  mahasiswa/siswa serta peserta magang dan pelatihan yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan dan institusi yang berbeda-beda. Tak diragukan lagi bahwa semua mahasiswa/siswa dan peserta magang/pelatihan mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam penularan infeksi dan akan beresiko mendapatkan HAIs. Oleh karena itu penting bagi mahasiswa/siswa, peserta magang/pelatihan, termasuk juga karyawan baru memahami proses terjadinya infeksi, mikroorganisme yang sering menimbulkan infeksi, serta bagaimana pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit. Sebab bila sampai terjadi infeksi nosokomial akan cukup sulit mengatasinya, pada umumnya kuman sudah resisten terhadap banyak antibiotika. Sehingga semua mahasiswa/siswa, peserta magang/pelatihan yang akan mengadakan praktik di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, termasuk juga karyawan baru yang akan bertugas harus diberikan Layanan Orientasi dan Informasi (LOI) tentang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi.
B.      Rantai Penularan Infeksi
Pengetahuan tentang rantai penularan infeksi sangat penting karena apabila satu mata rantai dihilangkan atau dirusak, maka infeksi dapat dicegah atau dihentikan. Komponen yang diperlukan sehingga terjadi penularan adalah:
  1. Agen infeksi  (infectious agent) adalah Mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi.  Pada manusia dapat berupa bakteri , virus, ricketsia, jamur dan parasit. Dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu: patogenitas, virulensi, dan jumlah (dosis, atau load)
  2. Reservoir atau tempat dimana agen infeksi dapat hidup, tumbuh, berkembang biak dan siap ditularkan kepada orang. Reservoir yang paling umumadalah manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, tanah, air dan bahan-bahan organik lainnya. Pada manusia: permukaan kulit, selaput lendir saluran nafas atas, usus dan vagina
  3. Port of exit ( Pintu keluar) adalah jalan darimana agen infeksi meninggalkan reservoir. Pintu keluar meliputi : saluran pernafasan, saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin, kulit dan membrana mukosa, transplasenta dan darah serta cairan tubuh lain.
  4. Transmisi (cara penularan) adalah mekanisme bagaimana transport agen infeksi  dari reservoir ke penderita (yang suseptibel). Ada beberapa cara penularan yaitu :
a. Kontak (contact transmission):
1)      Direct/Langsung:   kontak badan ke badan transfer kuman penyebab secara fisik pada saat pemeriksaan fisik, memandikan pasen
2)      Indirect/Tidak langsung (paling sering !!!): kontak melalui objek (benda/alat) perantara: melalui instrumen, jarum, kasa, tangan yang tidak dicuci
b. Droplet : partikel droplet > 5 μm melalui batuk, bersin, bicara, jarak sebar pendek, tdk bertahan lama di udara, “deposit” pada mukosa konjungtiva, hidung, mulut contoh : DifteriaPertussisMycoplasma, Haemophillus influenza type b (Hib),  Virus Influenza, mumps, rubella               c. Airborne : partikel kecil ukuran <  5 μm, bertahan lama di udara, jarak penyebaran jauh, dapat terinhalasi, contoh: Mycobacterium tuberculosis,                    virus campak, Varisela (cacar air), spora jamur
d. Melalui Vehikulum : Bahan yang dapat berperan dalam mempertahankan kehidupan kuman penyebab sampai masuk (tertelan atau terokulasi) pada pejamu yang rentan. Contoh: air, darah, serum, plasma, tinja, makanan
e. Melalui Vektor : Artropoda (umumnya serangga) atau binatang lain yang dapat menularkan kuman penyebab  cara menggigit pejamu yang rentan atau menimbun kuman penyebab pada kulit pejamu atau makanan. Contoh: nyamuk, lalat, pinjal/kutu, binatang pengerat
  1. Port of entry (Pintu masuk) adalah Tempat dimana agen infeksi memasuki pejamu (yang suseptibel). Pintu masuk bisa melalui:  saluran pernafasan, saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin, selaput lendir, serta kulit yang tidak utuh (luka).
  2. Pejamu rentan (suseptibel) adalah  orang yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang cukup untuk melawan agen infeksi serta mencegah infeksi atau penyakit. Faktor yang mempengaruhi: umur, status gizi, status imunisasi, penyakit kronis, luka bakar yang luas, trauma atau pembedahan, pengobatan  imunosupresan. Sedangkan faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah jenis kelamin, ras atau etnis tertentu, status ekonomi, gaya hidup, pekerjaan dan herediter.
C.      Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
Proses terjadinya infeksi bergantung kepada interaksi antara suseptibilitas penjamu, agen infeksi (pathogenesis, virulensi dan dosis) serta cara penularan. Identifikasi factor resiko pada penjamu dan pengendalian terhadap infeksi tertentu dapat mengurangi insiden terjadinya infeksi (HAIs), baik pada pasien ataupun pada petugas kesehatan.
Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi terdiri dari:
  1. Peningkatan daya tahan penjamu, dapat  pemberian imunisasi aktif (contoh vaksinasi hepatitis B), atau pemberian imunisasi pasif (imunoglobulin). Promosi kesehatan secara umum termasuk nutrisi yang adekuat akan meningkatkan daya tahan tubuh.
  2. Inaktivasi agen penyebab infeksi, dapat dilakukan  metode fisik maupun kimiawi. Contoh metode fisik adalah pemanasan (pasteurisasi atau sterilisasi) dan memasak makanan seperlunya. Metode kimiawi termasuk klorinasi air, disinfeksi.
  3. Memutus mata rantai penularan. Merupakan hal yang paling mudah untuk mencegah penularan penyakit infeksi, tetapi hasilnya bergantung kepeda ketaatan petugas dalam melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan.
Tindakan pencegahan ini telah disusun dalam suatu “Isolation Precautions” (Kewaspadaan Isolasi) yang terdiri dari 2 pilar/tingkatan, yaitu “Standard Precautions” (Kewaspadaan Standar) dan “Transmission based Precautions” (Kewaspadaan berdasarkan cara penularan)
  1. Tindakan pencegahan paska pajanan (“Post Exposure Prophylaxis”/PEP) terhadap petugas kesehatan. Berkaitan  pencegahan agen infeksi yang ditularkan melalui darah atau cairan tubuh lainnya, yang sering terjadi karena luka tusuk jarum bekas pakai atau pajanan lainnya. Penyakit yang perlu mendapatkan perhatian adalah hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV.
D.     Kewaspadaan Isolasi
Mikroba penyebab HAIs dapat ditransmisikan oleh pasien terinfeksi/kolonisasi kepada pasien lain dan petugas. Bila kewaspadaan isolasi diterapkan  benar dapat menurunkan risiko transmisi dari pasien infeksi/kolonisasi. Tujuan kewaspadaan isolasi adalah menurunkan transmisi mikroba infeksius diantara  petugas dan pasien. Kewaspadaan Isolasi harus diterapkan kewaspadaan isolasi sesuai gejala klinis,sementara menunggu hasil laboratorium keluar.
Kewaspadaan Isolasi merupakan kombinasi dari :
  • Standard Precautions /Kewaspadaan Standar
gabungan dari:
  • Universal Precautions/Kewaspadaan Universal
  • Body Substance Isolation/Isolasi substansi/cairan tubuh
berlaku untuk semua pasien, kemungkinan atau terbukti infeksi, setiap waktu di semua unit pelayanan kesehatan
  • Transmission-based precautions/ Kewaspadaan berbasis transmisi
dipakai bila rute transmisi tidak dapat diputus sempurna hanya  Standard precautions.
1970Tehnik isolasi untuk penggunaan di RS, edisi 1.Memperkenalkan 7 katagori kewaspadaan isolasi  kartu berwarna: Strict, Respiratory, Protective, Enteric, Wound and Skin,Discharge, and Blood
1983CDC Pedoman Kewaspadaan Isolasi RSMembagi menjadi 2 golongan sistim Isolasi; katagori spesifik dan penyakit spesifik
1985Universal Precautions  (UP)Berkembang dari epidemi HIV/AIDS
Ditujukan aplikasi kewaspadaan terhadap Darah dan Cairan Tubuh pada pasien pengidap infeksi
Tidak diterapkan terhadap feses,ingus,sputum,keringat,air mata,urin,muntahan
1987Body Substance Isolation (BSI)Menghindari kontak terhadap semua cairan tubuh dan  yang potensial infeksius kecuali keringat
1996Pedoman Kewaspadaan Isolasi dalam Rumah SakitDibuat oleh The Healthcare Infection Control Practices Advisory
Committee (HICPAC), CDC
Menggabungkan materi inti dari  UP and BSI  dalam Kewaspadaan  Standard untuk diterapkan terhadap semua pasien pada setiap waktu
2007Pedoman Kewaspadaan Isolasi; Pencegahan Transmisi penyebab infeksi pada Sarana Kesehatan.Dibuat oleh HICPAC, CDC.
tambahan :
  • HAIs
  • Hyangiene respirasi/Etika batuk,
  • Praktek menyuntik yang aman
  • Pencegahan infeksi unt prosedur Lumbal pungsi
Sejarah Kewaspadaan Isolasi
  • Kewaspadaan Standar
Kewaspadaan standar diberlakukan terhadap semua pasien, tidak tergantung terinfeksi/kolonisasi. Kewaspadaan standar disusun untuk mencegah kontaminasi silang sebelum diagnosis diketahui dan beberapa merupakan praktek rutin, meliputi:
  1. Kebersihan tangan/Handhygiene
  2. Alat Pelindung Diri (APD) : sarung tangan, masker, goggle (kaca mata pelindung), face shield (pelindungwajah), gaun
  3. Peralatan perawatan pasien
  4. Pengendalian lingkungan
  5. Pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen
  6. Kesehatan karyawan / Perlindungan petugas kesehatan
  7. Penempatan pasien
  8. Hyangiene respirasi/Etika batuk
  9. Praktek menyuntik yang aman
  10. Praktek pencegahan infeksi untuk prosedur lumbal pungsi
  • Kewaspadaan Berdasarkan Transmisi
Tujuan untuk memutus rantai penularan mikroba penyebab infeksi. Diterapkan pada pasien  gejala/dicurigai terinfeksi atau kolonisasi kuman penyebab infeksi menular yang dapat ditransmisikan lewat udatra, droplet, kontak  kulit atau permukaan terkontaminasi.
3 Jenis kewaspadaan berdasarkan transmisi:
–   kewaspadaan transmisi kontak
–   kewaspadaan transmisi droplet
–   kewaspadaan transmisi airborne
Kewaspadaan berdasarkan transmisi dapat dilaksanakan secara terpisah ataupun kombinasi karena suatu infeksi dapat ditransmisikan lebih dari satu cara.
1. Kewaspadaan transmisi Kontak
a)      Penempatan pasien :
  • Kamar tersendiri atau kohorting (Penelitian tidak terbukti kamar tersendiri mencegah HAIs)
  • Kohorting (management MDRo )
b)      APD petugas:
  • Sarung tangan bersih non steril, ganti setelah kontak  bahan infeksius, lepaskan sarung tangan sebelum keluar dari kamar pasien dan cuci tangan menggunakan antiseptik
  • Gaun, lepaskan gaun sebelum meninggalkan ruangan
c)      Transport pasien
  • Batasi kontak saat transportasi pasien
2. Kewaspadaan transmisi droplet
a)      Penempatan pasien :
  • Kamar tersendiri atau kohorting, beri jarak antar pasien >1m
  • Pengelolaan udara khusus tidak diperlukan, pintu boleh terbuka
b)      APD petugas:
  • Masker Bedah/Prosedur, dipakai saat memasuki ruang rawat pasien
c)      Transport pasien
  • Batasi transportasi pasien, pasangkan masker pada pasien saat transportasi
  • Terapkan hyangiene respirasi dan etika batuk
3. Kewaspadaan transmisi udara/airborne
a)      Penempatan pasien :
  • Di ruangan  tekanan negatif
  • Pertukaran udara > 6-12 x/jam,aliran udara yang terkontrol
  • Jangan gunakan AC sentral, bila mungkin AC + filter HEPA
  • Pintu harus selalu tertutup rapat.
  • kohorting
  • Seharusnya kamar terpisah, terbukti mencegah transmisi, atau kohorting  jarak >1 m
  • Perawatan tekanan negatif sulit, tidak membuktikan lebih efektif mencegah penyebaran
  • Ventilasi  airlock à ventilated anteroom terutama pada varicella (lebih mahal)
  • Terpisah  jendela terbuka (TBC ), tak ada orang yang lalu lalang
b)      APD petugas:
  • Minimal gunakan Masker Bedah/Prosedur
  • Masker respirator (N95) saat petugas bekerja pada radius <1m dari pasien,
  • Gaun
  • Goggle
  • Sarung tangan
(bila melakukan tindakan yang mungkin menimbulkan aerosol)
c)      Transport pasien
  • Batasi transportasi pasien, Pasien harus pakai masker saat keluar ruangan
  • Terapkan hyangiene respirasi dan etika batuk
Catatan :
Kohorting adalah menempatkan pasien terinfeksi atau kolonisasi  patogen yang sama di ruang yang sama, pasien lain tanpa patogen yang sama dilarang masuk.
Peraturan Untuk Kewaspadaan Isolasi
Harus dihindarkan transfer mikroba pathogen antar pasien dan petugas saat perawatan pasien rawat inap, perlu diterapkan hal-hal berikut :
  1. Kewaspadaan terhadap semua darah dan cairan tubuh ekskresi dan sekresi dari seluruh pasien
  2. Dekontaminasi tangan sebelum dan sesudah kontak diantara pasien satu  lainnya
  3. Cuci tangan setelah menyentuh bahan infeksius (darah dan cairan tubuh)
  4. Gunakan teknik tanpa menyentuh bila memungkinkan terhadap bahan infeksius
  5. Pakai sarung tangan saat atau kemungkinan kontak  darah dan cairan tubuh serta barang yang terkontaminasi, disinfeksi tangan segera setelah melepas sarung tangan. Ganti sarung tangan antara pasien.
  6. Penanganan limbah feses, urine, dan sekresi pasien lain di buang ke lubang pembuangan yang telah disediakan, bersihkan dan disinfeksi bedpan, urinal dan obtainer/container pasien lainnya.
  7. Tangani bahan infeksius sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO)
  8. Pastikan peralatan, barang fasilitas dan linen pasien yang infeksius telah dibersihkan dan didisinfeksi  benar.
E.      Kebersihan Tangan

Tangan merupakan media transmisi patogen tersering di RS. Menjaga kebersihan tangan dengan baik dan benar dapat mencegah penularan mikroorganisme dan menurunkan frekuensi infeksi nosokomial. Kepatuhan terhadap kebersihan tangan merupakan pilar pengendalian infeksi. Teknik yang digunakan adalah teknik cuci tangan 6 langkah. Dapat memakai antiseptik, dan air mengalir atau handrub berbasis alkohol.
Kebersihan tangan merupakan prosedur terpenting untuk mencegah transmisi penyebab infeksi (orang ke orang;objek ke orang). Banyak penelitian menunjukkan bahwa cuci tangan menunjang penurunan insiden MRSA, VRE di ICU.

Kapan Mencuci Tangan?
  • Segera setelah tiba di rumah sakit
  • Sebelum masuk dan meninggalkan ruangan pasien
  • Sebelum dan sesudah kontak  pasien atau benda yang terkontaminasi cairan tubuh pasien
  • Diantara kontak pasien satu dengan yang lain
  • Sebelum dan sesudah melakukan tindakan pada pasien
  • Sesudah ke kamar kecil
  • Sesudah kontak  darah atau cairan tubuh lainnya
  • Bila tangan kotor
  • Sebelum meninggalkan rumah sakit
  • Segera setelah melepaskan sarung tangan
  • Segera setelah membersihkan sekresi hidung
  • Sebelum dan setelah menyiapkan dan mengkonsumsi makanan
Alternatif Kebersihan Tangan
  • Handrub berbasis alkohol 70%:
–        Pada tempat dimana akses wastafel dan air bersih terbatas
–        Tidak mahal, mudah didapat dan mudah dijangkau
–        Dapat dibuat sendiri (gliserin 2 ml  100 ml alkohol 70 %)
  • Jika tangan terlihat kotor, mencuci tangan  air bersih mengalir dan sabun harus dilakukan
  • Handrub antiseptik tidak menghilangkan kotoran atau zat organik, sehingga jika tangan kotor harus mencuci tangan  sabun dan air mengalir
  • Setiap 5 kali aplikasi Handrub harus mencuci tangan  sabun dan air mengalir
  • Mencuci tangan sabun biasa dan air bersih mengalir sama efektifnya  mencuci tangan  sabun antimikroba (Pereira, Lee dan Wade 1997.
  • Sabun biasa mengurangi terjadinya iritasi kulit
Enam langkah kebersihan tangan :
Langkah 1    :         Gosokkan kedua telapak tangan
Langkah 2    :         Gosok punggung tangan kiri dengan telapak tangan kanan, dan lakukan sebaliknya
Langkah 3    :         Gosokkan kedua telapak tangan dengan jari-jari tangan saling menyilang
Langkah 4    :         Gosok ruas-ruas jari tangan kiri dengan ibu jari tangan kanan dan lakukan sebaliknya
Langkah 5    :         Gosok Ibu Jari tangan kiri dengan telapak tangan kanan secara memutar, dan lakukan sebaliknya
Langkah 6    :         Gosokkan semua ujung-ujung jari tangan kanan di atas telapak tangan kiri, dan lakukan sebaliknya
F.       Penutup
Memutus mata rantai penularan merupakan hal yang paling mudah untuk mencegah penularan penyakit infeksi, tetapi harus didukung dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan dalam Standar Prosedur Operasional. Adapun cara memutus mata rantai penularan infeksi tersebut adalah dengan penerapan “Isolation Precautions” (Kewaspadaan Isolasi) yang terdiri dari 2 pilar/tingkatan, yaitu “Standard Precautions” (Kewaspadaan Standar) dan “Transmission based Precautions” (Kewaspadaan berdasarkan cara penularan).
Promosi secara umum termasuk nutrisi yang adekuat akan dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Selanjutnya perlu perlindungan bagi petugas minimal dengan imunisasi Hepatitis B, dan diulang tiap 5 tahun paska imunisasi.
Kewaspadaan yang konstan dalam penanganan benda tajam harus dilaksanakan sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SPO). Luka tertusuk Jarum merupakan bahaya yang sangat nyata dan membutuhkan program manajemen paska pajanan (“Post Exposure Prophylaxis”/PEP) terhadap petugas kesehatan berkaitan pencegahan agen infeksi yang ditularkan melalui darah atau cairan tubuh lainnya, yang sering terjadi karena luka tusuk jarum bekas pakai atau pajanan lainnya.

Penanganan Syok

Penanganan Syok

Pengertian : 
  1. Syok adalah kondisi hilangnya volume darah sirkulasi efektif. Kemudian diikuti perfusi jaringan dan organ yang tidak adekuat, yang akibat akhirnya gangguan metabolik selular. Pada beberapa situasi kedaruratan adalah bijaksana untuk mengantisipasi kemungkinan syok. Seseorang dengan cidera harus dikaji segera untuk menentukan adanya syok. Penyebab syok harus ditentukan (hipovolemik, kardiogenik, neurogenik, atau septik syok).(Bruner & Suddarth,2002).
  2. Syok adalah suatu keadaan serius yang terjadi jika sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) tidak mampu mengalirkan darah ke seluruh tubuh dalam jumlah yang memadai; syok biasanya berhubungan dengan tekanan darah rendah dan kematian sel maupun jaringan. Syok terjadi akibat berbagai keadaan yang menyebabkan berkurangnya aliran darah, termasuk kelainan jantung (misalnya serangan jantung atau gagal jantung), volume darah yang rendah (akibat perdarahan hebat atau dehidrasi) atau perubahan pada pembuluh darah (misalnya karena reaksi alergi atau infeksi).
  3. Syok adalah kondisi kritis akibat penurunan mendadak dalam aliran darah yang melalui tubuh. Ada kegagalan sistem peredaran darah untuk mempertahankan aliran darah yang memadai sehingga pengiriman oksigen dan nutrisi ke organ vital terhambat. Kondisi ini juga mengganggu ginjal sehingga membatasi pembuangan llimbah dari tubuh.
Macam-macam Syok :
  1. Syok kardiogenik (berhubungan dengan kelainan jantung)
  2. Syok hipovolemik ( akibat penurunan volume darah)
  3. Syok anafilaktik (akibat reaksi alergi)
  4. Syok septik (berhubungan dengan infeksi)
  5. Syok neurogenik (akibat kerusakan pada sistem saraf).

Patofisiologi Syok : 



Penyebab : 
  1. Perdarahan (syok hipovolemik)
  2. Dehidrasi (syok hipovolemik)
  3. Gagal jantung (syok kardiogenik)
  4. Trauma atau cedera berat
  5. Serangan jantung (syok kardiogenik)
  6. Cedera tulang belakang (syok neurogenik)
  7. Infeksi (syok septik)
  8. Reaksi alergi (syok anafilaktik)
  9. Sindroma syok toksik.

Tanda-tanda syok : 
  1. Gelisah, pucat, keringat berlebihan dan kulit lembab
  2. Bibir dan kuku jari tangan tampak kebiruan
  3. Nyeri dada
  4. Kulit Lembab Dan Dingin
  5. Pembentukan Air Kemih Berkurang Atau Sama Sekali Tidak Terbentuk Air Kemih
  6. Pusing
  7. Pingsan
  8. Tekanan Darah Rendah (Hipotensi), tapi Tidak semua hipotensi adalah syok
  9. Denyut nadi yang cepat,pernafasan dangkal , Lemah dan sampai tidak sadarkan diri

Penanganan Syok
  1. Secara umum yaitu sebagai penolong yang berada di tempat kejadian, hal yang pertama-tama dapat dilakukan apabila melihat ada korban dalam keadaan syok adalah :
  2. Melihat keadaan sekitar apakah berbahaya (danger) , baik untuk penolong maupun yang ditolong (contoh keadaan berbahaya : di tengah kobaran api)
  3. Buka jalan napas korban, dan pertahankan kepatenan jalan nafas (Airway)
  4. Periksa pernafasan korban (Breathing)
  5. Periksa nadi dan Cegah perdarahan yang berlanjut (Circulation)
  6. Peninggian tungkai sekitar 8-12 inchi jika ABC clear
  7. Cegah hipotermi dengan menjaga suhu tubuh pasien tetap hangat (misal dengan selimut)
  8. Lakukan penanganan cedera pasien secara khusus selama menunggu bantuan medis tiba.

Periksa kembali pernafasan, denyut jantung suhu tubuh korban (dari hipotermi) setiap 5 menit.


Pengobatan :
  1. Penderita dijaga agar tetap merasa hangat dan kaki sedikit dinaikkan untuk mempermudah kembalinya darah ke jantung.
  2. Setiap perdarahan segera dihentikan dan pernafasan penderita diperiksa.
  3. Jika muntah, kepala dimiringkan ke satu sisi untuk mencegah terhirupnya muntahan.
  4. Jangan diberikan apapun melalui mulut.
  5. Tenaga kesehatan bisa memberikan bantuan pernafasan mekanis.
  6. Obat-obatan diberikan secara intravena.
  7. Obat bius (narkotik), obat tidur dan obat penenang biasanya tidak diberikan karena cenderung menurunkan tekanan darah.
  8. Cairan diberikan melalui infus. Bila perlu, diberikan transfusi darah.
  9. Cairan intravena dan transfusi darah mungkin tidak mempu mengatasi syok jika perdarahan atau hilangnya cairan terus berlanjut atau jika syok disebabkan oleh serangan jantung atau keadaan lainnya yang tidak berhubungan dengan volume darah.
  10. Untuk menambah aliran darah ke otak atau jantung bisa diberikan obat yang mengkerutkan pembuluh darah.
Demikianlah pengetahuan mengenai syok ini, semoga bermanfaat bagi sobat sekalian.