PENYAKIT PARU OBTRUKTIF
KRONIK
dr. Hasto Nugroho, Sp.p
RSPAW SALATIGA
1. Definisi Penyakit
Paru Obstruktif Kronik (PPOK)
Penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK) adalah penyakit paru kronik yang bisa dicegah dan diobati. PPOK ditandai
dengan adanya hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif
nonreversibel atau reversibel parsial, serta adanya respons inflamasi paru
terhadap partikel atau gas yang berbahaya (GOLD, 2015). Karakteristik hambatan
aliran udara pada PPOK disebabkan oleh gabungan antara obstruksi saluran napas
kecil (obstruksi bronkiolitis) dan kerusakan parenkim (emfisema) yang
bervariasi pada setiap individu. PPOK sering mengenai individu pada usia
pertengahan yang memiliki riwayat merokok jangka panjang.
2. Epidemiologi
PPOK
Data prevalens
PPOK pada populasi dewasa saat ini bervariasi pada setiap negara di seluruh
dunia. Tahun 2000, prevalens PPOK di Amerika dan Eropa berkisar 5-9% pada
individu usia > 45 tahun . Data penelitian lainnya menunjukkan prevalens
PPOK bervariasi dari 7,8%-32,1% di beberapa kota Amerika Latin. Prevalens PPOK
di Asia Pasifik rata-rata 6,3%, yang terendah 3,5 % di Hongkong dan Singapura
dan tertinggi 6,7% di Vietnam.
Untuk Indonesia, penelitian PPOK
working group tahun 2002 di 12 negara Asia Pasifik menunjukkan estimasi
prevalensi PPOK Indonesia sebesar 4,8 juta orang atau 5,6% (Regional COPD Working Group, 2003). Prevalens PPOK diperkirakan akan
meningkat sehubungan dengan peningkatan usia harapan hidup penduduk dunia.
Menurut prediksi WHO, PPOK yang saat ini merupakan penyebab kematian ke-4 di
seluruh dunia diperkirakan pada tahun 2030 akan menjadi penyebab kematian ke-3
di seluruh dunia (WHO, 2012).
3. Patofisiologi PPOK
Faktor risiko utama dari PPOK
adalah merokok. Komponen-komponen asap rokok merangsang perubahan pada sel-sel
penghasil mukus bronkus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus mengalami
kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia. Perubahan-perubahan pada
sel-sel penghasil mukus dan silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris
dan menyebabkan penumpukan mukus kental dalam jumlah besar dan sulit
dikeluarkan dari saluran napas. Mukus berfungsi sebagai tempat persemaian
mikroorganisme penyebab infeksi dan menjadi sangat purulen. Timbul peradangan
yang menyebabkan edema jaringan. Proses ventilasi terutama ekspirasi terhambat.
Timbul hiperkapnia akibat dari ekspirasi yang memanjang dan sulit dilakukan
akibat mukus yang kental dan adanya peradangan. Komponen-komponen asap rokok juga
merangsang terjadinya peradangan kronik pada paru. Mediator-mediator peradangan
secara progresif merusak struktur-struktur penunjang di paru. Akibat hilangnya
elastisitas saluran udara dan kolapsnya alveolus, maka ventilasi berkurang.
Parenkim paru kolaps terutama pada ekspirasi karena ekspirasi normal terjadi
akibat pengempisan (recoil) paru secara pasif setelah inspirasi. Dengan
demikian, apabila tidak terjadi recoil pasif, maka udara akan terperangkap di
dalam paru dan saluran udara kolaps , sehingga dapat terjadi sesak nafas.
Saluran napas dan paru berfungsi
untuk proses respirasi yaitu pengambilan oksigen untuk keperluan metabolisme
dan pengeluaran karbondioksida dan air sebagai hasil metabolisme. Proses ini
terdiri dari tiga tahap, yaitu ventilasi, difusi dan perfusi. Ventilasi adalah
proses masuk dan keluarnya udara dari dalam paru. Difusi adalah peristiwa
pertukaran gas antara alveolus dan pembuluh darah, sedangkan perfusi adalah
distribusi darah yang sudah teroksigenasi. Gangguan ventilasi terdiri dari
gangguan restriksi yaitu gangguan pengembangan paru serta gangguan obstruksi
berupa perlambatan aliran udara di saluran napas.
Pada PPOK, hambatan aliran udara
merupakan perubahan fisiologi utama yang diakibatkan oleh adanya perubahan yang
khas pada saluran napas bagian proksimal, perifer, parenkim dan vaskularisasi
paru yang dikarenakan adanya suatu inflamasi yang kronik dan perubahan
struktural pada paru. Terjadinya penebalan pada saluran napas kecil dengan peningkatan formasi folikel limfoid
dan deposisi kolagen dalam dinding luar saluran napas mengakibatkan restriksi
pembukaan jalan napas. Lumen saluran napas kecil berkurang akibat penebalan
mukosa yang mengandung eksudat inflamasi, yang meningkat sesuai berat
sakit. Dalam keadaan normal radikal
bebas dan antioksidan berada dalam keadaan seimbang. Apabila terjadi gangguan
keseimbangan maka akan terjadi kerusakan di paru.
4. Diagnosis PPOK
Diagnosis PPOK dimulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
foto toraks dapat menentukan PPOK Klinis. Apabila dilanjutkan dengan pemeriksaan
spirometri akan dapat menentukan diagnosis PPOK sesuai derajat penyakit.
4.1. Anamnesis
a.
Faktor Risiko
Faktor risiko yang penting adalah usia
(biasanya usia pertengahan), dan adanya riwayat pajanan, baik berupa asap
rokok, polusi udara, maupun polusi tempat kerja. Kebiasaan merokok merupakan
satu - satunya penyebab kausal yang terpenting, jauh lebih penting dari faktor
penyebab lainnya. Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan apakah
pasien merupakan seorang perokok aktif, perokok pasif, atau bekas perokok.
Penentuan derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian
jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam
tahun. Interpretasi hasilnya adalah derajat ringan (0-200), sedang (200-600),
dan berat ( >600).
b. Gejala
PPOK sudah dapat dicurigai pada
hampir semua pasien berdasarkan tanda dan gejala. Diagnosis lain seperti asma,
TB paru, bronkiektasis, keganasan dan penyakit paru kronik lainnya dapat
dipisahkan. Anamnesis lebih lanjut dapat menegakkan diagnosis ( Jindal dan
Gupta, 2004) Gejala klinis yang biasa
ditemukan pada penderita PPOK adalah sebagai berikut (COPD Health Center, 2010)
:
a. Batuk kronik
Batuk kronik adalah batuk hilang
timbul selama 3 bulan dalam 2 tahun terakhir yang tidak hilang dengan
pengobatan yang diberikan. Batuk dapat terjadi sepanjang hari atau intermiten.
Batuk kadang terjadi pada malam hari.
b. Berdahak kronik
Hal ini disebabkan karena peningkatan
produksi sputum. Kadang kadang pasien menyatakan hanya berdahak terus menerus
tanpa disertai batuk. Karakterisktik batuk dan dahak kronik ini terjadi pada
pagi hari ketika bangun tidur.
c. Sesak napas
Terutama pada saat melakukan aktivitas.
Seringkali pasien sudah mengalami
adaptasi dengan sesak nafas yang bersifat progressif lambat sehingga sesak ini tidak
dikeluhkan. Anamnesis harus dilakukan dengan teliti, gunakan ukuran sesak napas sesuai skala sesak
Skala
Sesak
|
Keluhan Sesak Berkaitan dengan Aktivitas
|
0
|
Tidak ada sesak
kecuali dengan aktivitas berat
|
1
|
Sesak mulai timbul
bila berjalan cepat atau naik tangga 1 tingkat
|
2
|
Berjalan lebih
lambat karena merasa sesak
|
3
|
Sesak timbul bila
berjalan 100 m atau setelah beberapa menit
|
4
|
Sesak bila mandi
atau berpakaian
|
Tabel . Skala Sesak British Medical Research Council (MRC)
d. Mengi
Mengi atau wheezing adalah suara
memanjang yang disebabkan oleh penyempitan saluran pernapasan dengan aposisi
dinding saluran pernapasan. Suara tersebut dihasilkan oleh vibrasi dinding
saluran pernapasan dengan jaringan sekitarnya. Karena secara umum saluran
pernapasan lebih sempit pada saat ekspirasi, maka mengi dapat terdengar lebih
jelas pada saat fase ekspirasi. Pada pasien PPOK juga terdapat mengi pada fase
ekspirasi. Mengi polifonik merupakan jenis mengi yang paling banyak terdapat
pada pasien PPOK. Terdapat suara jamak simultan dengan berbagai nada yang
terjadi pada fase ekspirasi dan menunjukan penyakit saluran pernafasan yang
difus.
e. Ronkhi
Ronkhi merupakan bunyi diskontinu singkat yang
meletup-letup yang terdengar pada fase inspirasi maupun ekspirasi. Ronkhi
mencerminkan adanya letupan mendadak jalan nafas kecil yang sebelumnya
tertutup. Ronkhi juga dapat disebabkan oleh penutupan jalan nafas regional
dikarenakan penimbunan mucus pada saluran nafas. Pada pasien PPOK dapat pula
terjadi ronhki meskipun bukan gejala khas dari PPOK.
f. Penurunan aktivitas
Penderita PPOK akan mengalami
penurunan kapasitas fungsional dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Kemampuan
fisik yang terbatas pada penderita PPOK lebih dipengaruhi oleh fungsi otot
skeletal atau perifer. Pada penderita PPOK ditemukan kelemahan otot perifer
disebabkan oleh hipoksia, hiperkapnia, inflamasi dan malnutrisi kronis.
Dinyatakan PPOK (secara klinis)
apabila sekurang-kurangnya pada anamnesis ditemukan adanya riwayat pajanan
faktor risiko disertai batuk kronik dan berdahak dengan sesak nafas terutama
pada saat melakukan aktivitas pada seseorang yang berusia pertengahan atau yang
lebih tua
4.2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik seringkali
tidak ditemukan kelainan yang jelas terutama auskultasi pada PPOK ringan,
karena sudah mulai terdapat hiperinflasi alveoli. Sedangkan pada PPOK derajat
sedang dan PPOK derajad berat seringkali terlihat perubahan cara bernapas atau
perubahan bentuk anatomi toraks.
Secara umum pada pemeriksaan fisik
dapat ditemukan hal-hal sebagai berikut:
1. Inspeksi
a. Bentuk dada: barrel chest (dada
seperti tong )
b. Terdapat cara bernapas purse lips
breathing (seperti orang meniup )
c. Terlihat penggunaan dan hipertrofi
(pembesaran) otot bantu nafas
d. Pelebaran sela iga
e. Bila telah terjadi gagal jantung
kanan terlihat denyut vena jugularis
leher dan edema tungkai f.
Penampilan pink puffer atau blue bloater
2. Palpasi
a. Fremitus melemah
b. Sela iga melebar
3. Perkusi
a.
Hipersonor
4. Auskultasi
a. Fremitus melemah
b. Suara nafas vesikuler melemah atau normal
c. Ekspirasi memanjang
d.
Mengi (biasanya timbul pada eksaserbasi)
e.
Ronki
4.3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Spirometri
Spirometri adalah pemeriksaan yang
dilakukan untuk mengukur secara obyektif kapasitas/fungsi paru (ventilasi) pada
pasien dengan indikasi medis. Alat yang digunakan disebut spirometer. Prinsip
spirometri adalah mengukur kecepatan perubahan volume udara di paru-paru selama
pernafasan yang dipaksakan atau disebut forced volume capacity (FVC).
Pengukuran fungsi paru yang
dilaporkan:
a. Forced Vital Capacity (FVC) adalah
jumlah udara yang dapat di keluarkan secara paksa setelah inspirasi maksimal,
dan di ukur dalam liter
b. Forced expiratoy volume in one
second (FEV1) adalah jumlah udara yang dapat dikeluarkan dalam satu detik, di
ukur dalam liter. Bersama dengan FCV merupakan indikator utama fungsi paru
c. FEV1/FVC merupakan rasio FEV1/SCV.
Pada orang sehat nilai normalnya sekitar 75 – 80%
d. Peak expiratory flow (PEF)
merupakan kecepatan pergerakan udara keluar dari paru pada awal ekspirasi, di
ukur dalam liter/detik.
e. Forced expiratory flow (FEF) merupakan
kecepatan rata-rata aliran udara keluar dari paru selama pertengahan
pernafasan. Sering juga di sebut sebagai MMEF (Maximal Mid-Expiratory Flow).
Klasifikasi gangguan
ventilasi (% nilai prediksi) :
a. Gangguan restriksi : Vital Capacity (VC)
< 80% nilai prediksi; FVC < 80% nilai prediksi
b.
Gangguan obstruksi : FEV1 < 80% nilai prediksi; FEV1/FVC < 75%
nilai prediksi
c. Gangguan restriksi dan obstruksi :
FVC < 80% nilai prediksi; FEV1/FVC < 75% nilai prediksi.
5. Penatalaksanaan PPOK
Penatalaksanaan pada PPOK dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu terapi non-farmakologis dan terapi farmakologis. Tujuan
terapi tersebut adalah mengurangi gejala, mencegah progresivitas penyakit,
mencegah dan mengatasi ekserbasasi dan komplikasi, menaikkan keadaan fisik dan
psikologis pasien, meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi angka kematian.
Terapi non farmakologi
Terapi non
farmakologi dapat
dilakukan dengan cara menghentikan kebiasaan merokok, meningkatkan toleransi
paru dengan olahraga dan latihan pernapasan serta memperbaiki nutrisi. Edukasi
merupakan hal penting dalam pengelolaan jangkan panjang pada PPOK stabil.
Edukasi pada PPOK berbeda dengan edukasi pada asma. Karena PPOK adalah penyakit
kronik yang bersifat irreversible dan progresif, inti dari edukasi adalah
menyesuaikan keterbatasan aktivitas dan mencegah kecepatan perburukan penyakit.
Terapi farmakologi
Pada terapi farmakologis, obat-obatan
yang paling sering digunakan dan merupakan pilihan utama adalah bronchodilator.
Penggunaan obat lain seperti kortikosteroid, antibiotik dan antiinflamasi
diberikan pada beberapa kondisi tertentu. Bronkodilator diberikan secara
tunggal atau kombinasi dari ketiga jenis bronkodilator dan disesuaikan dengan
klasifikasi derajat berat penyakit. Pemilihan bentuk obat diutamakan inhalasi,
nebuliser tidak dianjurkan pada penggunaan jangka panjang. Pada derajat berat
diutamakan pemberian obat lepas lambat (slow release) atau obat berefek panjang
(long acting).
Macam-macam bronkodilator :
a. Golongan β– 2 agonis.
Bentuk inhaler digunakan untuk
mengatasi sesak, peningkatan jumlah penggunaan dapat sebagai monitor timbulnya
eksaserbasi. Sebagai obat pemeliharaan sebaiknya digunakan bentuk tablet yang
berefek panjang. Bentuk nebuliser dapat digunakan untuk mengatasi eksaserbasi
akut, tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang. Bentuk injeksi subkutan
atau drip untuk mengatasi eksaserbasi berat.
b. Golongan antikolinergik.
Digunakan pada derajat ringan sampai
berat, disamping sebagai bronkodilator juga mengurangi sekresi lendir (
maksimal 4 kaliperhari ).
c. Kombinasi antikolinergik dan β– 2
agonis.
Kombinasi kedua golongan obat ini
akan memperkuat efek bronkodilatasi, karena keduanya mempunyai tempat kerja
yang berbeda. Disamping itu penggunaan obat kombinasi lebihs ederhana dan
mempermudah penderita.
d. Golongan xantin.
Dalam bentuk lepas lambat sebagai
pengobatan pemeliharaan jangka panjang, terutama pada derajat sedang dan berat.
Bentuk tablet biasa atau puyer untuk mengatasi sesak (pelega napas), bentuk
suntikan bolus atau drip untuk mengatasi eksaserbas iakut. Penggunaan jangka
panjang diperlukan pemeriksaan kadar aminofilin darah.
Kepustakaan:
GOLD. Update 2015.
PPOK . Diagnosis dan Penatalaksanaan. Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia (PDPI), 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar